16 Juli 2008

Mengapa Cincin Kawin Dipasang di Jari Manis?

Ikuti langkah berikut ini, Tuhan benar-benar membuat keajaiban.

1.Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar)

2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.

3. Permainan dimulai , 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…

4. Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari mewakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.

5. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.

6. Sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak-anak. Cepat atau lambat anak-anak juga akan meninggalkan kita.

7. Selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.

Benerkan???

Kebetulan atau tidak, yang pasti ini benar-benar jadi inspirasi. So, berbahagialah yang sudah memiliki pasangan dan setialah kepadanya.

Have A Nice Day, God Bless You.

08 Juli 2008

1001 Burung Kertas

Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan. Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July. Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “ Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “ Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri. Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan. Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July. Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July. Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo. Reo membaca surat itu. “Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Reo................................ July “ Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan.July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran. Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita

Label:

Kata-kata bijak

  1. "Walau anggrek tumbuh di hutan yang terpencil, bukan karena tidak ada orang ia tidak menebarkan wangi. Seseorang arif-budiman membina diri dan menegakkan kebajikan, bukan karena kemiskinan ia jatuh dan gagal."
  2. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
  3. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
  4. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
  5. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.
  6. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
  7. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
  8. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
  9. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itupula.
  10. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
  11. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
  12. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.
  13. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.
  14. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
  15. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.
  16. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap peduli padanya.
  17. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.
  18. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.
  19. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.
  20. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.
  21. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
  22. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
  23. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.
  24. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
  25. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum - jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis.
  26. Ketika engkau sedang marah pada seseorang yang di hadapanmu, jangan melihat ke atas tetapi lihatlah ke bawah.

Label:

05 Juli 2008

Bangkit dari Kegagalan Meraih Kemenangan

Seringkali kita berpikir bahwa hanya orang-orang yang jauh dari Tuhanlah yang cenderung mengalami kegagalan. Hal ini terlihat bahwa seringkali pula seseorang memberi nasihat kepada orang lain yang sedang mengalami kegagalan untuk banyak berdoa, meskipun belum tentu kehidupan doanya buruk.

Jika kita melihat kehidupan Abram, maka kita akan menemui sesosok pribadi yang begitu intim dengan Allah, bahkan sampai disebut sahabat Allah. Namun demikian, Abram pun pernah mengalami kegagalan ketika ia gagal mempertahankan imannya kepada Allah yang berjanji akan memberikan keturunan dari dia dan istrinya, namun justru Abram lebih mendengar pada perkataan istrinya yang memintanya untuk memberikan anak dari perempuan lain.

Apa yang kita baca dari firman Tuhan merupakan bukti dan konsekuensi yang harus diterima Abram karena kegagalannya untuk percaya. Abram yang sebelumnya begitu intim dengan Tuhan, menjadi seseorang yang “ditinggalkan Tuhan” selama 13 tahun, dari Abram umur 86 tahun hingga umur 99 tahun, di mana dalam kurun waktu tersebut Tuhan tidak berbicara kepada Abraham.

Antara Kej 16:16 dan Kej 17:1, terdapat tenggang waktu yang hilang dari sejarah kehidupan Abram sebagai sahabat Allah sejak ia mengambil Hagar dan memperanakkan Ismael. Sebagai orang yang sebelumnya begitu intim dengan Allah, dan kemudian ditinggalkan sedemikian lamanya, sudah barang tentu kehidupan Abram sangat menderita secara roh, karena secara jasmaniah mereka adalah orang yang kaya.

Apa yang membuat Allah begitu “kesal” dengan Abram, sehingga Ia tega memisahkan diri dari Abram?

Dalam Kej 15, kita dapat melihat bahwa ketika Abram telah putus asa karena tidak memiliki keturunan dan akan mewariskan segala kepunyaannya kepada Eliezer, Tuhan sendiri yang memberikan janji kepada Abram bahwa keturunannyalah yang akan mewarisi segala kepunyaannya. Pada Kej 15:6 dituliskan “maka percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran.”

Memperhitungkan sebagai kebenaran memiliki makna bahwa Tuhan melihat bahwa sikap yang diambil Abram untuk percaya kepada-Nya itu sangat tepat, dan harus dipegang teguh atau dijaga kualitasnya. Allah begitu senang dan sukacita ketika menemukan iman yang sempurna dari Abram, sehingga ia tidak lagi menyembunyikan rencana berkat-Nya bagi Abram.

Akan tetapi, ketika kembali berhadapan dengan realitas kehidupannya, Abram tidak dapat mempertahankan kualitas imannya kepada Allah. Terlebih ketika Sara merengek-rengek minta anak dan membujuknya untuk mengambil Hagar menjadi istrinya supaya bisa mendapat anak darinya. Abram tidak berdaya menghadapi semua itu dan hal itulah yang membuatnya gagal di hadapan Tuhan.

Jadi hal yang dapat kita ambil dari kegagalan Abram adalah: PERCAYAI HANYA PADA APA YANG DIKATAKAN TUHAN.

Hal ini bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Akan tetapi, yang harus mendapatkan prioritas untuk dipercayai adalah Allah. Apa yang dapat membuat kita gagal dalam iman?

  1. Kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, sehingga kita tidak peka dengan suara Tuhan.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Abram, karena ia memiliki hubungan yang baik dan intim dengan Tuhan. Jika seseorang yang hubungannya dengan Allah sangat luar biasa seperti Abram dapat mengalami kegagalan di dalam imannya, bagaimana jadinya jika kita kualitas hubungan kita dengan Allah tidak baik? Sudah tentu kita sangat rentan untuk gagal.

  1. Pendapat orang-orang di sekitar.

Abram mulai melangkah dalam kegagalannya dari fase ini. Sekalipun tidak tertulis dalam Alkitab, saya percaya bahwa yang dilakukan Sarai pada waktu itu bukan hanya sekedar membujuk Abram, namun hal itu disertai usaha yang sangat gigih serta mendesak sehingga Abram tidak memiliki kesempatan lagi untuk berpikir dengan jernih, apalagi mengingat apa yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya.

Sebagai pemimpin dalam keluarganya, Abram seharusnya mampu mengendalikan keinginan istrinya yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Seharusnya Abram dengan terbuka menceritakan kepada Sarai apa yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya. Ataupun jika Abram sudah menceritakan dan Sarai tetap tidak percaya, Abram punya kewajiban untuk setidaknya memegang imannya kepada Allah.

Sekali lagi, kita bukan tidak butuh nasihat dan pendapat dari orang-orang yang ada di sekitar kita tentang apa yang sedang kita rencanakan. Akan tetapi, bagaimana pun juga bukankah kita yang mengambil dan menentukan keputusan tersebut? Kita harus obyektif dalam menilai masukan dan pendapat dari orang lain, namun yang menjadi tolok ukur adalah penyataan Tuhan kepada kita.

  1. Prioritas Kasih yang Keliru.

Abram sangat mengasihi Sarai, dan ia sangat setia kepadanya. Hal ini dapat terlihat bagaimana Abram tetap mendampingi Sarai dengan segala kekurangannya, bahkan bisa disebut sebagai aib karena kemandulannya, dan tidak memilih poligami yang pada masa itu merupakan sesuatu yang wajar.

Kegagalan Abram disebabkan karena ia meletakkan prioritas kasih yang keliru, di mana Abram sangat mengasihi Sarai dan tidak ingin mengecewakannya. Hal inilah yang membuat Abram berpikir bahwa seolah-olah ini merupakan cara bagi Tuhan untuk memberinya keturunan.

Abram pun mengorbankan imannya kepada Allah demi kasihnya kepada Sarai.

Orang-orang yang kita kasihi, terkadang dapat menjadi sumber dari kegagalan kita. Akan tetapi hal tersebut dapat dihindari dengan cara kita memberikan pengertian yang benar tentang kasih. Dalam hubungan itu, kita harus belajar menyamakan persepsi bahwa kasih kepada Allah adalah yang terutama dan menjadi prioritas kasih kita (Mat 22:37-40).

  1. Terjebak oleh Kebutuhan

Secara materi Abram tidaklah kekurangan sama sekali. Mereka hanya butuh seorang anak di tengah-tengah keluarga mereka. Tatkala Abram menerima janji Allah dan mempercayainya, tentunya ia sangat bahagia dan ingin segera mendapatkan penyataan dari janji tersebut.

Ketika Sarai meminta, dan Abram telah berjanji, serta kedua hal itu berkenaan dengan kebutuhan mereka, maka Abram segera saja menuruti keinginan istrinya karena hal itu “seolah-olah” jalan dari Tuhan untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan.

Kita harus berhati-hati ketika kita bergumul dengan apa yang kita butuhkan. Sekalipun Tuhan telah berjanji untuk senantiasa memenuhi kebutuhan kita, namun kita jangan lengah karena kadangkala, di saat kebutuhan itu sangat mendesak, Iblis berusaha mengalihkan iman kita kepada jalan pintas yang disediakannya sehingga kita masuk dalam jeratnya.

Memenuhi kebutuhan memang mutlak bagi kita, namun yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memahami rencana dan rancangan Allah bagi kita untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Allah tidak pernah terlambat atau terlalu cepat dalam bertindak. Yang seringkali memaksa Allah “berlambat-lambat” adalah sikap kita yang tidak sabat terhadap cara kerja Tuhan yang selalu efektif.

Abram barangkali tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk menggendong Ishak, apabila ia mampu melihat kebutuhannya dalam rangkaian rencana Allah bagi dirinya.

Namun demikian, Allah tidak membiarkan Abram terus hidup dalam kegagalan. Sifat-Nya yang setia terhadap janji-Nya dinyatakan dalam kehidupan Abram, sekalipun Abram tidak memiliki sesuatu yang layak diperhitungkan karena ia telah mengecewakan Tuhan. Allah tidak pernah menyimpan kesalahan dan kekecewaan-Nya terhadap kita, karena Tuhan selalu ingin kita berubah menjadi pribadi yang semakin sempurna.

Allah kembali menyatakan janji-Nya kepada Abram, namun kali ini dengan satu syarat agar Abram hidup di hadapan-Nya dengan tidak bercela (17:1).

Abram bukanlah seorang fasik yang hidup di dalam kejahatan dan dosa. Ia seorang yang saleh, hanya saja kegagalannya untuk tetap percaya kepada Allah itulah yang dinilai Allah sebagai cela di hadapan-Nya. Hal ini menunjukkan betapa tingginya standar yang diberikan Allah kepada Abram tentang kekudusan dalam hidupnya. Di hadapan Tuhan, tidak memiliki iman yang kokoh adalah suatu cela.

Kebangkitan Abram dari kegagalan dimulai dari kepercayaan yang diberikan Allah yang harus direspon dengan ketaatan oleh Abram. Apa yang harus dilakukan Abraham?

  1. Hidup dalam visi Tuhan

Penggantian nama dari Abram menjadi Abraham pada dasarnya dilakukan Allah untuk membentuk pola pikir Abraham tentang rencana jangka panjang Allah bagi dia dan keturunannya. Ia bukan lagi menjadi bapa dari satu kaum keluarga, namun menjadi bapa bagi banyak bangsa. Itulah visi yang diberikan TUhan dalam hidup Abraham. Abraham hidup dan mengimani visi itu, sehingga saat ini kita bisa merasakan buah dari iman Abraham.

Dari hal ini Tuhan mengajar kita bahwa dalam segala sesuatu di dalam kehidupan kita terdapat rencana TUhan yang besar dan bernilai kekal. Kegagalan yang kita alami dikarenakan kita tidak dapat atau mungkin tidak sabar dengan rencana Allah tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk memandang jauh ke depan dalam setiap segi kehidupan kita. Jangan kita biasakan berpikir pendek dan hanya untuk kebutuhan sesaat, karena itu akan membuat kita tidak berkembang. Kita harus memperluas jangkauan pola pikir kita dengan berorientasi jauh ke depan seperti yang dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, kita akan terpacu untuk bangkit menjadi manusia-manusia yang luar biasa di hadapan Tuhan dan memiliki kehidupan yang berdampak dan memuliakan Tuhan.

  1. Hidup dalam Ketaatan

Yang membuat Abraham menjadi istimewa di hadapan Tuhan adalah ketaatannya. Kalaupun dia pernah gagal, dia tidak mengulangi hal yang sama. Setiap perjanjian dan kehendak Allah selalu dikerjakannya dengan sempurna, sekalipun ia harus berkorban. Perjanjian sunat, berdoa syafaat, bahkan perintah untuk mengorbankan Ishak sebagai kurban bakaran pun dilakukan Abraham dengan setia

Ketaatan kepada Allah adalah kunci utama bagi kita untuk bangkit dari kegagalan. Selama kita tidak mau taat kepada Allah, maka sesungguhnya kehidupan kita masih akan terus terpuruk dalam kegagalan. Perbaharui komitmen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah, maka Ia akan memberikan kemampuan kepada kita untuk menatap dan meraih hari esok yang penuh harapan, yang disediakan Tuhan bagi kita.

Dari kisah Abraham, kita hendaknya belajar untuk menempatkan iman kepada Allah sebagai sesuatu yang memiliki prioritas tertinggi dalam kehidupan kita. Segala yang ada di sekitar kita, termasuk orang-orang dan kebutuhan kita, sebenarnya merupakan sarana bagi Allah untuk menguji iman dan pengharapan kita kepada Allah.

Jangan berpikir pendek dan hanya berorientasi pada kebutuhan sesaat, karena Tuhan sedang menyediakan rencana yang sangat besar dan mulia bagi kita. Hiduplah dalam visi Allah dan hiduplah dalam ketaatan kepada seluruh kehendak Allah.

Amin

Label: