05 Juli 2008

Bangkit dari Kegagalan Meraih Kemenangan

Seringkali kita berpikir bahwa hanya orang-orang yang jauh dari Tuhanlah yang cenderung mengalami kegagalan. Hal ini terlihat bahwa seringkali pula seseorang memberi nasihat kepada orang lain yang sedang mengalami kegagalan untuk banyak berdoa, meskipun belum tentu kehidupan doanya buruk.

Jika kita melihat kehidupan Abram, maka kita akan menemui sesosok pribadi yang begitu intim dengan Allah, bahkan sampai disebut sahabat Allah. Namun demikian, Abram pun pernah mengalami kegagalan ketika ia gagal mempertahankan imannya kepada Allah yang berjanji akan memberikan keturunan dari dia dan istrinya, namun justru Abram lebih mendengar pada perkataan istrinya yang memintanya untuk memberikan anak dari perempuan lain.

Apa yang kita baca dari firman Tuhan merupakan bukti dan konsekuensi yang harus diterima Abram karena kegagalannya untuk percaya. Abram yang sebelumnya begitu intim dengan Tuhan, menjadi seseorang yang “ditinggalkan Tuhan” selama 13 tahun, dari Abram umur 86 tahun hingga umur 99 tahun, di mana dalam kurun waktu tersebut Tuhan tidak berbicara kepada Abraham.

Antara Kej 16:16 dan Kej 17:1, terdapat tenggang waktu yang hilang dari sejarah kehidupan Abram sebagai sahabat Allah sejak ia mengambil Hagar dan memperanakkan Ismael. Sebagai orang yang sebelumnya begitu intim dengan Allah, dan kemudian ditinggalkan sedemikian lamanya, sudah barang tentu kehidupan Abram sangat menderita secara roh, karena secara jasmaniah mereka adalah orang yang kaya.

Apa yang membuat Allah begitu “kesal” dengan Abram, sehingga Ia tega memisahkan diri dari Abram?

Dalam Kej 15, kita dapat melihat bahwa ketika Abram telah putus asa karena tidak memiliki keturunan dan akan mewariskan segala kepunyaannya kepada Eliezer, Tuhan sendiri yang memberikan janji kepada Abram bahwa keturunannyalah yang akan mewarisi segala kepunyaannya. Pada Kej 15:6 dituliskan “maka percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran.”

Memperhitungkan sebagai kebenaran memiliki makna bahwa Tuhan melihat bahwa sikap yang diambil Abram untuk percaya kepada-Nya itu sangat tepat, dan harus dipegang teguh atau dijaga kualitasnya. Allah begitu senang dan sukacita ketika menemukan iman yang sempurna dari Abram, sehingga ia tidak lagi menyembunyikan rencana berkat-Nya bagi Abram.

Akan tetapi, ketika kembali berhadapan dengan realitas kehidupannya, Abram tidak dapat mempertahankan kualitas imannya kepada Allah. Terlebih ketika Sara merengek-rengek minta anak dan membujuknya untuk mengambil Hagar menjadi istrinya supaya bisa mendapat anak darinya. Abram tidak berdaya menghadapi semua itu dan hal itulah yang membuatnya gagal di hadapan Tuhan.

Jadi hal yang dapat kita ambil dari kegagalan Abram adalah: PERCAYAI HANYA PADA APA YANG DIKATAKAN TUHAN.

Hal ini bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Akan tetapi, yang harus mendapatkan prioritas untuk dipercayai adalah Allah. Apa yang dapat membuat kita gagal dalam iman?

  1. Kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, sehingga kita tidak peka dengan suara Tuhan.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Abram, karena ia memiliki hubungan yang baik dan intim dengan Tuhan. Jika seseorang yang hubungannya dengan Allah sangat luar biasa seperti Abram dapat mengalami kegagalan di dalam imannya, bagaimana jadinya jika kita kualitas hubungan kita dengan Allah tidak baik? Sudah tentu kita sangat rentan untuk gagal.

  1. Pendapat orang-orang di sekitar.

Abram mulai melangkah dalam kegagalannya dari fase ini. Sekalipun tidak tertulis dalam Alkitab, saya percaya bahwa yang dilakukan Sarai pada waktu itu bukan hanya sekedar membujuk Abram, namun hal itu disertai usaha yang sangat gigih serta mendesak sehingga Abram tidak memiliki kesempatan lagi untuk berpikir dengan jernih, apalagi mengingat apa yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya.

Sebagai pemimpin dalam keluarganya, Abram seharusnya mampu mengendalikan keinginan istrinya yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Seharusnya Abram dengan terbuka menceritakan kepada Sarai apa yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya. Ataupun jika Abram sudah menceritakan dan Sarai tetap tidak percaya, Abram punya kewajiban untuk setidaknya memegang imannya kepada Allah.

Sekali lagi, kita bukan tidak butuh nasihat dan pendapat dari orang-orang yang ada di sekitar kita tentang apa yang sedang kita rencanakan. Akan tetapi, bagaimana pun juga bukankah kita yang mengambil dan menentukan keputusan tersebut? Kita harus obyektif dalam menilai masukan dan pendapat dari orang lain, namun yang menjadi tolok ukur adalah penyataan Tuhan kepada kita.

  1. Prioritas Kasih yang Keliru.

Abram sangat mengasihi Sarai, dan ia sangat setia kepadanya. Hal ini dapat terlihat bagaimana Abram tetap mendampingi Sarai dengan segala kekurangannya, bahkan bisa disebut sebagai aib karena kemandulannya, dan tidak memilih poligami yang pada masa itu merupakan sesuatu yang wajar.

Kegagalan Abram disebabkan karena ia meletakkan prioritas kasih yang keliru, di mana Abram sangat mengasihi Sarai dan tidak ingin mengecewakannya. Hal inilah yang membuat Abram berpikir bahwa seolah-olah ini merupakan cara bagi Tuhan untuk memberinya keturunan.

Abram pun mengorbankan imannya kepada Allah demi kasihnya kepada Sarai.

Orang-orang yang kita kasihi, terkadang dapat menjadi sumber dari kegagalan kita. Akan tetapi hal tersebut dapat dihindari dengan cara kita memberikan pengertian yang benar tentang kasih. Dalam hubungan itu, kita harus belajar menyamakan persepsi bahwa kasih kepada Allah adalah yang terutama dan menjadi prioritas kasih kita (Mat 22:37-40).

  1. Terjebak oleh Kebutuhan

Secara materi Abram tidaklah kekurangan sama sekali. Mereka hanya butuh seorang anak di tengah-tengah keluarga mereka. Tatkala Abram menerima janji Allah dan mempercayainya, tentunya ia sangat bahagia dan ingin segera mendapatkan penyataan dari janji tersebut.

Ketika Sarai meminta, dan Abram telah berjanji, serta kedua hal itu berkenaan dengan kebutuhan mereka, maka Abram segera saja menuruti keinginan istrinya karena hal itu “seolah-olah” jalan dari Tuhan untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan.

Kita harus berhati-hati ketika kita bergumul dengan apa yang kita butuhkan. Sekalipun Tuhan telah berjanji untuk senantiasa memenuhi kebutuhan kita, namun kita jangan lengah karena kadangkala, di saat kebutuhan itu sangat mendesak, Iblis berusaha mengalihkan iman kita kepada jalan pintas yang disediakannya sehingga kita masuk dalam jeratnya.

Memenuhi kebutuhan memang mutlak bagi kita, namun yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memahami rencana dan rancangan Allah bagi kita untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Allah tidak pernah terlambat atau terlalu cepat dalam bertindak. Yang seringkali memaksa Allah “berlambat-lambat” adalah sikap kita yang tidak sabat terhadap cara kerja Tuhan yang selalu efektif.

Abram barangkali tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk menggendong Ishak, apabila ia mampu melihat kebutuhannya dalam rangkaian rencana Allah bagi dirinya.

Namun demikian, Allah tidak membiarkan Abram terus hidup dalam kegagalan. Sifat-Nya yang setia terhadap janji-Nya dinyatakan dalam kehidupan Abram, sekalipun Abram tidak memiliki sesuatu yang layak diperhitungkan karena ia telah mengecewakan Tuhan. Allah tidak pernah menyimpan kesalahan dan kekecewaan-Nya terhadap kita, karena Tuhan selalu ingin kita berubah menjadi pribadi yang semakin sempurna.

Allah kembali menyatakan janji-Nya kepada Abram, namun kali ini dengan satu syarat agar Abram hidup di hadapan-Nya dengan tidak bercela (17:1).

Abram bukanlah seorang fasik yang hidup di dalam kejahatan dan dosa. Ia seorang yang saleh, hanya saja kegagalannya untuk tetap percaya kepada Allah itulah yang dinilai Allah sebagai cela di hadapan-Nya. Hal ini menunjukkan betapa tingginya standar yang diberikan Allah kepada Abram tentang kekudusan dalam hidupnya. Di hadapan Tuhan, tidak memiliki iman yang kokoh adalah suatu cela.

Kebangkitan Abram dari kegagalan dimulai dari kepercayaan yang diberikan Allah yang harus direspon dengan ketaatan oleh Abram. Apa yang harus dilakukan Abraham?

  1. Hidup dalam visi Tuhan

Penggantian nama dari Abram menjadi Abraham pada dasarnya dilakukan Allah untuk membentuk pola pikir Abraham tentang rencana jangka panjang Allah bagi dia dan keturunannya. Ia bukan lagi menjadi bapa dari satu kaum keluarga, namun menjadi bapa bagi banyak bangsa. Itulah visi yang diberikan TUhan dalam hidup Abraham. Abraham hidup dan mengimani visi itu, sehingga saat ini kita bisa merasakan buah dari iman Abraham.

Dari hal ini Tuhan mengajar kita bahwa dalam segala sesuatu di dalam kehidupan kita terdapat rencana TUhan yang besar dan bernilai kekal. Kegagalan yang kita alami dikarenakan kita tidak dapat atau mungkin tidak sabar dengan rencana Allah tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk memandang jauh ke depan dalam setiap segi kehidupan kita. Jangan kita biasakan berpikir pendek dan hanya untuk kebutuhan sesaat, karena itu akan membuat kita tidak berkembang. Kita harus memperluas jangkauan pola pikir kita dengan berorientasi jauh ke depan seperti yang dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, kita akan terpacu untuk bangkit menjadi manusia-manusia yang luar biasa di hadapan Tuhan dan memiliki kehidupan yang berdampak dan memuliakan Tuhan.

  1. Hidup dalam Ketaatan

Yang membuat Abraham menjadi istimewa di hadapan Tuhan adalah ketaatannya. Kalaupun dia pernah gagal, dia tidak mengulangi hal yang sama. Setiap perjanjian dan kehendak Allah selalu dikerjakannya dengan sempurna, sekalipun ia harus berkorban. Perjanjian sunat, berdoa syafaat, bahkan perintah untuk mengorbankan Ishak sebagai kurban bakaran pun dilakukan Abraham dengan setia

Ketaatan kepada Allah adalah kunci utama bagi kita untuk bangkit dari kegagalan. Selama kita tidak mau taat kepada Allah, maka sesungguhnya kehidupan kita masih akan terus terpuruk dalam kegagalan. Perbaharui komitmen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah, maka Ia akan memberikan kemampuan kepada kita untuk menatap dan meraih hari esok yang penuh harapan, yang disediakan Tuhan bagi kita.

Dari kisah Abraham, kita hendaknya belajar untuk menempatkan iman kepada Allah sebagai sesuatu yang memiliki prioritas tertinggi dalam kehidupan kita. Segala yang ada di sekitar kita, termasuk orang-orang dan kebutuhan kita, sebenarnya merupakan sarana bagi Allah untuk menguji iman dan pengharapan kita kepada Allah.

Jangan berpikir pendek dan hanya berorientasi pada kebutuhan sesaat, karena Tuhan sedang menyediakan rencana yang sangat besar dan mulia bagi kita. Hiduplah dalam visi Allah dan hiduplah dalam ketaatan kepada seluruh kehendak Allah.

Amin

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda